LEMBUR = LOYALITAS ?

Pernah denger istilah semacam itu? Aku baru aja denger itu beberapa hari yang lalu, keluar dari mulut seorang HRD yang memberi perintah kepada staff gudang pada saat briefing. Dimana saat itu yang bersangkutan memerintahkan kepada para staff gudang, supaya mengambil porsi lembur, setidaknya tiga kali seminggu untuk menunjukkan loyalitas kepada perusahaan.
Waktu denger itu (perintah lemburnya-red), dalam hati saya bilang "Fuck, ini HRD apa nggak tau esensi lembur itu ya? dan apa kaitannya lembur dan loyalitas?"
OK, gini, menurut aku nih ya, jatah kerja kita sehari itu sekitar 8 jam untuk enam hari kerja, atau 9 jam untuk lima hari kerja. Setiap harinya, oleh perusahaan, yang diwakili oleh pimpinan kita, kita akan diberi jatah pekerjaan yang bisa diselesaikan dalam rentang waktu itu. Nah, seharusnya untuk menunjukkan prestasi kerja, yang ditunjukkan bukan lalu menyelesaikan pekerjaan tersebut dalam waktu 10-11 jam, supaya dilihat orang bahwa kita lembur. Untuk menunjukkan kualitas kerja yang baik adalah kita memampukan diri kita menyelesaikan pekerjaan yang harusnya selesai dalam 8 atau 9 jam dalam jangka waktu lebih cepat. Mungkin 6 atau 7 jam, sehingga sisa waktunya bisa kita gunakan untuk mempersiapkan detail pekerjaan esok harinya, supaya tidak terlalu overload, atau bahkan esok harinya pekerjaan bisa kita selesaikan lebih cepat lagi.
Jadi, nggak perlu lembur dong ya untuk nunjukin kalo kita ini karyawan yang keren? Justru sebaliknya dong ya?
Kalo mau tunjukin kita punya loyalitas, tunjukin lah kalo dalam rentang waktu yang 8 atau 9 jam itu kita bisa menyelesaikan pekerjaan melebihi jatah yang seharusnya kita kerjakan. Misal, buruh pabrik, target sehari bisa mempacking 800 dus, tapi saking kerennya dia salam bekerja, dia bisa menyelesaikan 1100-1200 dus dalam waktu yang sama dengan teman-temannya. Nah, yang model kaya gini nih yang seharusnya dinilai sebagai keryawan yang punya loyalitas. Karena dengan cara kerja yang seperti itu tuh dia menunjukkan dedikasi tinggi atas pekerjaan yang dijalaninya. Atau mungkin perusahaan malah lebih melirik orang yang dalam 8 jam hanya menyelesaikan 600 dus, lalu lembur 2 jam, untuk menyelesaikan 200 dus berikutnya di satu jam lemburnya, sisa satu jam lemburnya lagi dia gunakan untuk bersantai di kantin perusahaan? Sementara perusahaan tetap harus memberi upah yang sama atas dua orang tersebut, lalu memberikan tambahan lembur untuk jenis karyawan yang kedua itu (yang pekerjaannya tidak sesuai target).
Sebetulnya, jika memang apa yang disampaikan oleh seorang HRD tadi didepan adalah benar perintah dari manajemen, berarti saat ini perusahaan yang diwakili oleh si HRD tersebut adalah perusahaan jaman kolonial, yang melihat kinerja seseorang bukan dari dedikasi yang terlihat atas hasil kerjanya, tapi melalui berapa jam dia betah di tempat kerja (meskipun dia tidak melakukan apa-apa).
Menurut aku nih ya, melihara karyawan sejenis dengan contoh yang kedua tadi itu bikin perusahaan cepet bangkrut lo. Kebayang nggak tuh? Kerja 8 jam, hasil nggak maksimal, buat nyelesaiin nambah sejam lagi, habis itu nambah satu atau dua jam lagi buat nongkrong, tapi oleh mesin finger terhitung hadir kerja. Hasilnya? Dapet duit lembur dari hasil santai-santai nongkrong sambil ngopi sama ngerokok di kantin. WADEFAK MADERFAKER....dan orang-orang macam begini ini yang malah dianggap loyal sama perusahaan? UTEKMU NANG ENDI TA CUKKKK!!!!
Yah, sampai disini aja, namanya juga cuma uneg-uneg. Semoga sang HRD bisa cepat menyadari kesalahannya dan bertobat.
Dari saya yang cuma orang lapangan dan dikejar-kejar target nggak jelas.

Salam

Komentar